Langsung ke konten utama

Persatuan Dibawah Panji Rasulullah


Muslimah Cantik Indonesia

MEWUJUDKAN PERSATUAN UMAT DIBAWAH PANJI RASULULLAH SAW

Banyak kalangan berujar bahwa umat Islam saat ini punya banyak aliran, banyak kelompok dan gemar berseteru.  Mereka pun pesimis umat Islam dapat dipersatukan kembali. Tentu saja, perasaan was-was seperti ini tak bisa dibiarkan. .
.
Memang, tak bisa dipungkiri, kondisi umat Islam saat ini tengah berada pada keterpurukan yang amat berat.  Cengkeraman sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan aturan islam dalam kehidupan masyarakat membuat umat Islam dirundung kesulitandalam berbagai sisi. .
.
Namun, semangat untuk mengubah kondisi itu sebenarnya mulai bangkit.  Beragam pendekatan dilakukan.  Ada yang melalui jalur praktis di sektor pendidikan, ekonomi, politik, perbaikan akhlak, memasukiranah pemerintahan dan sebagainya. .
.
Ada juga yang lebih mengedepankan perubahan pemikiran, mengingat kelemahan terbesar umat ini adalah pemikirannya.  Semua itu memang mengesankan umat terpecah belah, banyak kelompok, bahkan kadang gontok-gontokan–satu hal yang tak seharusnya dilakukan. .
.
Miris memang jika mengingat semua kondisi itu.  Namun, inilah kenyataan umat Muhammad Saw.  Mereka kehilangan kekuatan bersatu sejak Islam dihinakan.  Sejak kaum muslim menjadi bahan permainan orang-orang kafir dan tak memiliki Khalifah (pemimpin umum umat Islam sedunia), umat mudah bercerai-berai. .
.
Padahal Allah SWT menyerukan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (TQS. Ali Imran 103).
.
.
Sesungguhnya umat Islam bersaudara.
Mereka tidak boleh bercerai berai.  Mereka sama-sama memiliki Allah yang satu dan Rasulullah Muhammad Saw.
Kalaupun pendapat fiqh ibadah bisa berbeda, cara berjuang juga berbeda, sesungguhnya mereka memiliki akidah yang sama, syahadat yang sama; la ilaha illalLah Muhammad Rasulullah Saw. .
.
Inilah yang seharusnya senantiasa terpatri dan menjadi semangat untuk bersatu dan ber-Islam di tengah persoalan yang membelit umat saat ini.

Sungguh, betapa persatuan itu amat dibutuhkan untuk bangkit dari keterpurukan. .

#muslimahtauhid

📝

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa Qunut Nazilah • Fatwa NU

Doa Qunut Nazilah • Fatwa NU Berikut ini merupakan lafal doa qunut nazilah. Qunut nazilah pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW selama sebulan ketika kehilangan para sahabatnya di Bi’r Mu‘anah. Qunut nazilah ini dibaca sebelum sujud pada rakaat terakhir di setiap shalat wajib yang lima waktu. Selain doa qunut subuh, pada qunut nazilah ini ada baiknya kita menambahkannya dengan doa qunut yang dibaca oleh Sayyidina Umar dan Ibnu Umar RA. Berikut ini doanya. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ ...

Hadits Muslim No. 2731

"Demi Allah, sebenarnya saya tidak membutuhkan wewangian seperti ini, hanya saja saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda di atas mimbar: "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir melakukan ihdad atas mayyit melebih tiga hari, kecuali karena kematian suaminya yaitu empat bulan sepuluh hari." (HR. Muslim: 2731)

Doa Yang Dibaca Saat Bayi Baru Lahir • Fatwa NU

Doa Yang Dibaca Saat Bayi Baru Lahir • Fatwa NU Kelahiran merupakan prosesi kehidupan yang sangat didambakan kehadirannya oleh para orang tua. Tangis bayi sebagai tanda awal kehidupan, biasanya akan disusul dengan tangis bahagia dari kedua orang tua, khususnya ibu. Lelah mengandung selama 9 bulan bahkan lebih, dan sakitnya melahirkan, seolah hilang begitu saja setelah melihat bahwa bayi yang lahir berada dalam kondisi sehat walafiat. Hanya berbahagia saja tentunya tidak cukup, karena syariat agama Islam mengajarkan kepada kita untuk melakukan rangkaian dzikir dan doa yang patut dilakukan saat bayi baru lahir. Dzikir dan doa ini utamanya dilakukan oleh ayahnya, dan tetap dianjurkan bagi yang lainnya. Rangkaian dzikir dan doa tersebut telah dirangkum oleh Sayyid Muhammad bin 'Ali al-Tarimi dalam al-Wasail al-Syafi'ah fi al-Adzkar al-Nafi'ah wa al-Aurad al-Jami'ah (Beirut: Dar al-Ihya al-‘Ilm, 2000), hal. 269, sebagai berikut: 1. Membaca adzan pada telinga bayi sebelah kan...